Monday, December 2, 2013
DAN PERUBAHAN ITU...
Terkadang kita merasa bahwa apa yang kita miliki atau tengah kita kuasai adalah benar-benar secara absolut milik kita. Padahal, secara natural, Sunnatullah, apapun pasti dipergilirkan. Baru menjadi aus. Muda menjadi tua. Hidup menjadi mati. Dulu di atas sekarang di bawah, atau sebaliknya. Semua dipergilirkan, sebagai sebuah konsekuensi keniscayaan. Sebagai sebuah akibat dari waktu.
Saya masuk ke UPI tahun 1998. Itu berarti dua belas tahun yang lalu. Bukan waktu yang singkat sebenarnya. Kalau kita mengkredit motor dengan cicilan 2 tahun, berarti ia setara dengan enam motor.
Saya menikah di tahun 2002, saat usia saya akan genap 22 tahun, itu berarti usia pernikahan saya genap 8 tahun.
Anak saya lahir bertepatan dengan hari kemerdekaan AS, 4 Juli 2003. Itu berarti ia akan menginjak usia 7 tahun, dimana awal pembelajaran Islam mulai dikenalkan secara lebih keras.
Dan usia saya pun akan menginjak kepala tiga, itu berarti 'subsidi' kenikmatan atas usia dan nikmat-nikmat yang lain akan segera dicabut.
Dan terkadang, kita sering melupakan batas expired dari hidup kita. Oleh karenanya, tidak mengherankan di tengah jalan, kita menemukan rekan kita yang dulunya agamis, berubah menjadi 'kafiris'. Rekan kita yang dulunya rendah hati berubah menjadi tinggi hati. Rekan kita yang kaya akan idealisme dan cita-cita yang tinggi terhadap kebenaran dan keadilan, berubah menjadi pragmatis. Dulunya mendemo penguasa sekarang menjadi antek-anteknya. Ya, itulah pergiliran yang alamiah terjadi....
Bagi mereka yang tidak siap dengan dipergilirkan biasanya akan mendapatkan dua macam sindrom. Sindrom pertama, bagi yang dipergeserkan dari kekuasaan, jabatan, posisi tinggi, akan mengalami apa yang disebut post power syndrom. Ditandai dengan stres, depresi tingkat tinggi, bahkan tidak sering berlanjut pada perawatan rumah sakit. Yang terbayang dipikirannya adalah bahwa rizkinya akan terhenti dan dunia akan menjadi sempit.
Bagi mereka yang digilirkan menjadi penguasa, promosi jabatan, memegang kekuasaan, maka ia cenderung arogan, greedy dan rakus, bahkan tidak jarang melakukan praktik-praktik jilatisasi bagaikan anjing yang takut ditendang majikannya. Ia menganggap kekuasaan, jabatan merupakan anugerah, bukan amanah. Kecenderungan berikutnya, ia tidak akan merasa siap pula untuk dilengserkan.
Seorang rekan menceritakan betapa stres dan tertekan bosnya saat mengetahui bosnya itu akan dimutasikan. Bos nya itu marah-marah dan merasa di'jungkal'kan oleh mutasinya itu.
Stres, panik, khawatir adalah gejala alamiah saat kita mendapatkan pergiliran tersebut. Tapi, bukankah pergiliran tersebut belumlah yang terakhir. Masih akan banyak pergiliran-pergiliran lain yang merupakan suatu kemestian dalam sistem kehidupan. Dan seharusnya, stres, tertekan, khawatir, cemas dan ketakutan itu membukakan pintu hati kita terhadap pergiliran akhir yang akan membawa kita dalam siklus berikutnya: alam baka dengan segenap konsekuensinya.
Adalah beberapa rekan saya yang shalih yang saya lihat tidak terpengaruh dalam proses pergiliran di dunia. Saat dalam posisi di atas atau di bawah. Saat dalam kondisi bahagia atau sedih. Saat dalam sehat atau sakit, tetap dalam penuh kesadaran menjaga kelurusan diri dan nurani, serta gigih mengumandangkan perubahan demi sebuah kebaikan, keadilan dan kemanusiaan....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment